by

Biografi Agung Sudiyono (3) – Disetrap karena tidak Beli LKS

-Tokoh-104 views

Selepas SD Agung Sudiyono harus melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Maka pilihannya di SMP Negeri 5, Jl. Rajawali, Surabaya. SMP Negeri 5 tergolong favorit. Untuk bisa masuk ke SMP ini harus melalui seleksi yang ketat. Letak SMP 5 tidak jauh dari Jembatan Merah.

Harapan Agung sekolah di SMP Negeri 5 supaya bisa mendapat serba gratis. Tapi ternyata harapan itu pupus, karena pihak sekolah mewajibkan siswanya untuk membeli buku ini buku itu, termasuk Lembar Kerja Siswa (LKS).

Pada mulanya orangtua Agung mampu membelikan buku-buku tersebut. Tapi karena seringnya membeli buku, termasuk untuk kakak-kakak Agung, belakangan orangtua Agung kerap menunda pembelian buku-buku Agung.

“Sebentar ya, bapak usahakan dulu,” kata sang ayah seringkali.

Memang buku LKS bagi siswa umumnya tidak mahal. Hanya Rp 500. Tapi bagi orangtua Agung, yang pegawai rendahan PJKA dengan lima orang anak, harga buku segitu tergolong mahal. Apalagi harus membayar SPP. Agung menyadari itu.

Karena itu, ketika siswa diwajibkan membeli LKS Geografi, Agung terpaksa tidak minta ke orangtuanya. Memutuskan tidak beli. Karena Agung menyadari kondisi keuangan orangtuanya.

Pada satu waktu, guru yang mengajar tahu Agung tidak mempunyai LKS. Mulanya menanyakan siswa yang tidak memiliki LKS. Hanya Agung sendiri seisi kelas yang tidak mempunyai LSK. Guru menghukum Agung berupa berdiri di depan kelas, sementara teman-temannya yang mempunyai LKS mengerjakan di bangku.

Perasaan Agung tercabik-cabik.

Sepulang sekolah, sesampainya di rumah Agung mengadukan hukuman itu ke orangtuanya. 

“Kenapa menangis?” tanya ibunya.

“Dihukum, disetrap berdiri di depan kelas, karena tidak mempunyai LKS,” jawabnya dengan sedih.

Esoknya ayahnya menemui pihak sekolah untuk minta klarifikasi.

Mengetahui kalau Agung dari keluarga miskin, para guru, termasuk kepala sekolah, minta maaf kepada orangtua Agung. Ayah Agung menceritakan kalau memang anaknya tidak meminta untuk dibelikan LKS, karena tahu dan menyadari kondisi ekonomi ayahnya.

Meski demikian ibunya tetap membelikan LKS pelajaran Geografi tersebut.

Kedatangan orang tuanya, ternyata mengubah sistem yang awalnya siswa wajib membeli, kemudian menjadi tidak wajib. Kalau mampu beli, silakan, kalau tidak mampu beli tidak apa-apa. Siswa bisa menyalin atau menulis materi LKS di buku tulis. (dn/res/bersambung)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed