Beranda Tokoh Biografi Agung Sudiyono (3) - Disetrap karena tidak Beli LKS

Biografi Agung Sudiyono (3) – Disetrap karena tidak Beli LKS

Selepas SD Agung Sudiyono harus melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Maka pilihannya di SMP Negeri 5, Jl. Rajawali, Surabaya. SMP Negeri 5 tergolong favorit. Untuk bisa masuk ke SMP ini harus melalui seleksi yang ketat. Letak SMP 5 tidak jauh dari Jembatan Merah.

Harapan Agung sekolah di SMP Negeri 5 supaya bisa mendapat serba gratis. Tapi ternyata harapan itu pupus, karena pihak sekolah mewajibkan siswanya untuk membeli buku ini buku itu, termasuk Lembar Kerja Siswa (LKS).

Pada mulanya orangtua Agung mampu membelikan buku-buku tersebut. Tapi karena seringnya membeli buku, termasuk untuk kakak-kakak Agung, belakangan orangtua Agung kerap menunda pembelian buku-buku Agung.

“Sebentar ya, bapak usahakan dulu,” kata sang ayah seringkali.

Memang buku LKS bagi siswa umumnya tidak mahal. Hanya Rp 500. Tapi bagi orangtua Agung, yang pegawai rendahan PJKA dengan lima orang anak, harga buku segitu tergolong mahal. Apalagi harus membayar SPP. Agung menyadari itu.

Karena itu, ketika siswa diwajibkan membeli LKS Geografi, Agung terpaksa tidak minta ke orangtuanya. Memutuskan tidak beli. Karena Agung menyadari kondisi keuangan orangtuanya.

Pada satu waktu, guru yang mengajar tahu Agung tidak mempunyai LKS. Mulanya menanyakan siswa yang tidak memiliki LKS. Hanya Agung sendiri seisi kelas yang tidak mempunyai LSK. Guru menghukum Agung berupa berdiri di depan kelas, sementara teman-temannya yang mempunyai LKS mengerjakan di bangku.

Perasaan Agung tercabik-cabik.

Sepulang sekolah, sesampainya di rumah Agung mengadukan hukuman itu ke orangtuanya. 

“Kenapa menangis?” tanya ibunya.

“Dihukum, disetrap berdiri di depan kelas, karena tidak mempunyai LKS,” jawabnya dengan sedih.

Esoknya ayahnya menemui pihak sekolah untuk minta klarifikasi.

Mengetahui kalau Agung dari keluarga miskin, para guru, termasuk kepala sekolah, minta maaf kepada orangtua Agung. Ayah Agung menceritakan kalau memang anaknya tidak meminta untuk dibelikan LKS, karena tahu dan menyadari kondisi ekonomi ayahnya.

Meski demikian ibunya tetap membelikan LKS pelajaran Geografi tersebut.

Kedatangan orang tuanya, ternyata mengubah sistem yang awalnya siswa wajib membeli, kemudian menjadi tidak wajib. Kalau mampu beli, silakan, kalau tidak mampu beli tidak apa-apa. Siswa bisa menyalin atau menulis materi LKS di buku tulis. (dn/res/bersambung)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Masukkan nama anda

Berita Terkini

Perkuat Sinergitas TNI-Polri Guna Tingkatkan Disiplin Protokol Kesehatan di Masyarakat

SIDOARJOKINI - Sebagai tindak lanjut dikeluarkannya Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2020, guna merespon penyebaran Covid-19 di Tanah Air, Kamis (13/8/2020) pagi,...

Peduli Sesama, Polwan Sidoarjo Donorkan Darah di HUT Polwan ke-72

SIDOARJOKINI - Memperingati 72 Tahun Polisi Wanita (Polwan), sejumlah anggota Polwan Polresta Sidoarjo menggelar berbagai rangkaian kegiatan bakti sosial peduli sesama.

Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa Pasca Pandemi, Mungkinkah?

Oleh : Drs. Sukendro Syahlil, MM Diakui atau tidak, akibat dari wabah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia, sangat...

Humanis, Polresta Sidoarjo bersama Forkopimda Bagikan Masker dan Vitamin ke Masyarakat

SIDOARJOKINI - Dengan cara humanis, Polresta Sidoarjo bersama Forkopimda Sidoarjo mengajak masyarakat mematuhi protokol kesehatan dan membiasakan olahraga. Melalui pembagian masker, vitamin,...

Polresta Sidoarjo Salurkan Bantuan Sembako dan Alkes dari Kapolri

SIDOARJOKINI - Dalam situasi pandemi Covid-19 yang berdampak pada aspek sosial, kesehatan dan perekonomian global, membuat Polri terus bergerak menyalurkan bantuan kepada...

Berita Terpopuler

Widodo Basuki, Pelukis dan Pegurit, Cerminan Wayang Sebagai Konsep Hidup

"Saya tahun ini berencana pameran tunggal sekaligus peluncuran buku novel saya yang terbaru," kata pelukis Widodo Basuki yang juga sebagai pegurit...

Tiba-tiba Tiada, Kolom Dahlan Iskan tentang Mohammad Nadjikh, Bos Kelola Mina Laut yang Meninggal Dunia

Oleh Dahlan Iskan Tulisan saya hari ini tidak obyektif. Hati-hati membacanya. Banyak orang lain yang...

Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa Pasca Pandemi, Mungkinkah?

Oleh : Drs. Sukendro Syahlil, MM Diakui atau tidak, akibat dari wabah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia, sangat...

BUMDesa Makmur Sejahtera Fasilitasi Warga Sukodono dengan Gladiol Convention Hall

SIDOARJOKINI - Bagi warga Kec. Sukodono yang membutuhkan gedung serba guna untuk resepsi pernikahan atau iven lainnya, sekarang tidak perlu jauh-jauh. Di...

CTH Selenggarakan Bazaar UKM dan Big Sale

SIDOARJOKINI - Cooperative Trading House (CTH) menyelenggarakan Bazaar UKM dan Special Offer Big Sale di Galeri CTH di komplek Dinas Koperasi...