by

Bermodal Rp 2 Juta, Essy Sukses Kembangkan 2 Merek

-Tokoh-57 views

Nama Essy Masita sangat kondang sebagai desainer busana di DI Yogyakarta. Sebab, dialah pemilik bisnis fashion dengan merek Maharani Persada, dan Aluna by Putri Shabrina.

Butik sekaligus workshop-nya yang terletak di Jalan Golo Gang Wora Wari-Pandeyan, Yogyakarta, tidak pernah sepi oleh pengunjung.

Untuk Maharani Persada, order personalnya bahkan ada yang berasal dari Brazil, Filipina, Azerbaijan, dan Amerika Serikat. Sedangkan Aluna by Putri Shabrina yang baru dikibarkan  beberapa bulan yang lalu, lebih banyak dipasarkan lewat online.

“Suatu hari nanti saya ingin memiliki pusat fashion yang berbasis kain tradisional dari seluruh daerah di Indonesia,” kata Essy, serius.

Lulusan Fisipol UGM (1993) ini tidak pernah menyangka modal Rp 2 jutaan yang ditanamnya pada akhir tahun 1990-an, telah berkembang sedemikian rupa pada saat sekarang ini.

“Dulu saya hanya punya sebuah mesin jahit tua dan seorang tukang jahit. Selain uang Rp 2 jutaan, saya hanya punya beberapa lembar kain saja,” kenang ibu 3 orang anak  tersebut.

Walau bermodal cekak, namun Essy merasa optimis karya-karyanya bakal bisa diterima banyak orang. “Saya nekat menawarkannya ke  teman dan beberapa toko,” lanjut dia.

Toh, Essy mengakui,  perjalanannya dalam membesarkan Maharani Persada tidak selamanya berjalan mulus. Namun, dia sangat beruntung ketiga anaknya –Riesfita, Putri Shabrina, dan Rieky– memberikan dukungan total. “Selain kerabat dan sahabat, merekalah yang menguatkan semangat saya untuk melangkah maju hingga saat ini,” paparnya.

Bahkan Putri Shabrina –yang dikenal sebagai model busana muslim di Kota Gudeg– juga mulai mengikuti jejak ibundanya dalam berbisnis fashion dengan mengusung merek Aluna by Putri Shabrina.

Khusus Aluna by Putri Shabrina, Essy dan Putri memproduksinya secara massal, namun dalam jumlah yang terbatas. Bahan crafty fashion-nya didominasi tenun, lurik, shibori, dan batik.

“Saya cinta kain tradisional Indonesia. Jadi, sambil berbisnis saya juga ingin membantu pengrajin kain tradisional agar selalu eksis,” ungkap Essy. Agar lebih keren, dia mengombinasikannya dengan sulam sashiko yang dikerjakan dengan tangan.

Jarum Patah
Perempuan kelahiran Kediri itu menilai, kemampuan jahit-menjahitnya diwarisi dari ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai guru. “Beliau hobi menyulam, menjahit, membordir, sekaligus mendesain produk furnitur,” ucap Essy. “Ibu saya belajar secara otodidak,” sambungnya.

“Dulu ketika ibu sedang menjahit atau menyulam,  saya sering memperhatikannya,” cerita Essy.

Jika ibundanya tengah bepergian atau berangkat mengajar, Essy kecil sering mencuri-curi kesempatan untuk melanjutkan sulaman ibundanya itu. “Beberapa kali saya mematahkan jarum mesin jahit, karena nekat coba-coba menjahit sendiri,” kata Essy.

“Saya hanya tersenyum, ketika Ibu bertanya soal siapa yang mematahkan jarum mesin jahitnya,” sambung dia. Biasanya Essy menjawab pertanyaan ibundanya tersebut dengan sebuah senyuman. “Alhamdulillah…Ibu tidak pernah memarahi saya. Mungkin beliau memahami perasaan saya,” duganya.

Seiring waktu Essy mencoba untuk membuat baju boneka, wadah pensil, pita rambut dan sejenisnya, secara otodidak. “Hingga SMA saya tinggal di Kediri. Pada masa itu tidak ada tempat kursus tata busana,” katanya.

Ketika dia menyelesaikan kuliah di UGM hingga dikaruniai anak di DI Yogyakarta,  maka Essy mulai berpikir untuk melahirkan karya, sambil tetap mengasuh anak-anaknya.

“Pada akhirnya saya ikut sekolah fashion di beberapa tempat,” ucapnya. Sebab, dia memang ingin meningkatkan keterampilannya di dunia tata busana.  “Baru pada tahun 2000, saya benar-benar serius mengembangkan usaha di bidang fashion,” katanya.

Saat ini Essy memiliki 10 orang mitra kerja untuk memproduksi merek Maharani Persada. Agar namanya kian moncer, dia juga rajin mengikuti pergelaran busana dan pameran. Sejak 2008 hingga sekarang, misalnya, dia tak pernah absen dalam Jogja Fashion Week. Bahkan karena memiliki kapasitas yang mumpuni, Essy juga beberapa kali didaulat sebagai juri lomba fashion show.

Dia berpendapat, pendidikan akademis memang sangat dibutuhkan oleh setiap orang. “Namun, saya berpendapat keterampilan sangat bermanfaat bagi perjalanan karier kita masing-masing. Ini agar masing-masing orang terus bergerak dan survive, dalam situasi apa pun,” alasan anggota APPMI (Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia) ini. (*)

Penulis: M. Taufiq, wartawan senior di Surabaya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed