by

Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa Pasca Pandemi, Mungkinkah?

Oleh : Drs. Sukendro Syahlil, MM

Diakui atau tidak, akibat dari wabah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia, sangat berdampak terhadap kemajuan pengembangan pendidikan  dan pembelajaran di sekolah, dalam kurun waktu yang amat panjang dan luas. Model pembelajaran on line atau daring selama masa pandemi Covid-19, kenyataanya menimbulkan kejenuhan dan kebosanan siswa secara berkepanjangan. Akibatnya bisa ditebak, motivasi belajar siswa menjadi menurun, spirit belajar rendah, hilang keinginan untuk bersaing satu sama lain, musnah harapan untuk mengejar prestasi yang tinggi di sekolah.

Sukendri Syahlil

Permasalahan akan menjadi rumit dan kompleks, jika nantinya siswa-siswa mulai masuk sekolah lagi, pasca pandemi. Pertanyaannya, apakah anak-anak masih memiliki spirit dan motivasi belajar di sekolah. Karena sudah lama, hampir 7 bulan, anak-anak kita belajar dari rumah, dengan segala fasilitas yang tersedia, serba ada dan dicukupi oleh orang tuanya, sehingga karakter anak-anak kita menjadi malas, super ego, individualis, kurang disiplin, dan tidak mandiri. Karena di rumah, mayoritas, semua fasilitas serba ada, bagus, berkualitas dan bisa dipergunakan sewaktu-waktu, tanpa gangguan pihak lain.

Namun karena kurang kontrol dan pengawasan orang tua, dalam perkembangannya, semangat dan motivasi belajar menjadi rendah, karena memanfaatkan waktu belajar di rumah untuk kegiatan lain, misalnya main game, bermain sesuai dengan aplikasi di handphonenya untuk kesenangan sesaat dan kurang bermanfaat bagi pendidikannya.

Sesungguhnya jiwa bermalas-malasan di rumah, akan terus terbawa jika nanti sudah masuk sekolah dengan pembelajaran di kelas secara normal. Sudah bisa diprediksi, motivasi belajar anak-anak akan menjadi turun secara drastis. Motivasi adalah sebuah keinginan atau dorongan seseorang untuk bertindak, sehingga derajat motivasi sangat mempengaruhi kuat lemahnya keinginan soeorang melakukan sebuah tindakan. Menurut David Mc.Clelland, terdapat motivasi yang menonjol yaitu achievement motivation, yaitu suatu keinginan untuk mengatasi da  mengalahkan suatu tantangan untuk kemajuan dan pertumbuhan, dalam konteks ini yakni motivasi belajar di sekolah.

Motivasi belajar siswa pasca pandemi Covid-19, harus dibangkitkan secara bertahap dan berkelanjutan oleh guru-guru di sekolah. Siswa harus dibiasakan dan dibudayakan untuk belajar dengan baik, melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Pada dasarnya merupakan keinginan semua orang untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya, termasuk siswa. Seorang siswa semestinya berkeinginan melakukan kewajiban pembelajaran di sekolah dengan sebaik-baiknya, dalam artian menimba dan mencari ilmu pengetahuan dengan penuh semangat  di sekolah.

Siswa belajar di sekolah untuk  mencapai kesuksesan, ini berarti bahwa siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran di sekolah, memiliki tujuan untuk mencapai kesuksesan dan kebersilan dirinya  di masa-masa mendatang. Kesuksesan seseorang siswa biasanya berbanding lurus dengan kemampuan  guru dalam mengelola proses belajar di sekolah.

Di sisi lain, siswa harus mampu menyelesaikan tugas-tugas yang memerlukan usaha dan keterampilan, dalam konteks ini siswa senantiasa dituntut untuk mampu menyelesaikan segala tugas di sekolah, dengan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya, dengan bimbingan dan pengarahan guru-gurunya di sekolah.

Motivasi belajar, dalam konteks yang lain, seorang siswa  melakukan hal yang sukar dengan hasil yang memuaskan, merupakan satu bentuk dari tantangan siswa dalam melaksanakan kewajiban dan tugasnya di sekolah. Siswa juga dituntut mampu melaksanakan tugas yang sulit, misalnya mengikuti lomba cerdas cermat tingkat nasional, kegiatan LKS tingkat nasional, dan kegiatan lomba-lomba yang lainnya berskala nasional.

Melakukan sesuatu yang lebih baik dari siswa lain, juga termasuk ke dalam konteks motivasi belajar, ini mengandung makna, siswa perlu kiranya melakukan suatu perilaku atau perbuatan yang jauh lebih baik dari siswa lain atau teman-temannya di sekolah. Hal ini berarti bahwa siswa harus bisa menjadi contoh dan suri tauladan bagi masyarakat sekitarnya, khususnya bagi teman-teman sebaya di sekitarnya.

Sebenarnya motivasi belajar banyak ragamnya, namun kecenderungan seseorang dipengaruhi oleh timbulnya atau proses motivasi dalam diri seseorang. Teori motivasi proses, pada dasarnya berusaha menjawab pertanyaan bagaimana menguatkan, mengarahkan, memelihara dan menghentikan perilaku individu agar individu bekerja sesuai dengan tujuan organisasi dan keinginan bersama.

Pada teori harapan berpijak adanya suatu kesempatan yang diberikan pada seseorang karena perilaku. Pada konsep teori harapan memiliki nilai mulai dari nol, yang berarti tidak ada kemungkinan bahwa suatu hasil akan muncul atau tercapai. Di sisi lain, angka positif satu dan seterusnya, menunjukan bahwa kemungkinan hasil tertentu akan tercapai mengikuti tindakan atau perilaku seseorang. Harapan individu terhadap pencapaian hasil, biasanya dinyatakan dengan probabilitas.

Konsep mendasar teori keadilan merupakan daya penggerak yang bisa memotivasi semangat kerja seseorang. Penilaian terhadap kinerja seseorang harus didasarkan pada keadilan, obyektif dan bukan atas dasar suka atau tidak suka. Pemberian kompensasi, penghargaan kepada individu harus berdasarkan internal kontingensi, demikian juga hukuman harus didasarkan penilaian yang obyektif dan adil.Hal ini bermakna bahwa jika keadilan diterapkan secara proporsional, maka motivasi dan semangat kerja siswa cenderung meningkat.

Sesungguhnya substansi teori pengukuhan didasarkan atas hubungan sebab dan akibat, dari perilaku dengan pemberian kompensasi. Prinsip pengukuhan selalu berkaitan dengan bertambahnya frekuensi dari tanggapan, apabila diikuti adanya stimulus yang bersyarat. Demikian juga, sebaliknya, prinsip hukuman selalu berkaitan dengan berkurangnya tanggapan, apabila tanggapan disertai adanya rangsangan yang bersyarat.

Dalam konteks motivasi belajar di sekolah, guru wajib membangkitkan motivasi siswa dengan rutin, komperehensif dan berkelanjutan, dengan melihat kondisi siswa yang sebenarnya. Kemampuan dan kekurangan siswa perlu menjadi pertimbangan guru-guru dalam membantu proses pembelajaran siswa di sekolah, sehingga siswa bisa berkembang dengan baik dan sesuai kebutuhan di sekolah.

Pada hakekatnya motivasi belajar terdiri atas dorongan-dorongan dari dalam individu untuk dapat mencapai tujuan belajarnya secara bertahap, ketika menghadapi rintangan berkaitan dengan pembelajaran di sekolah. Motivasi belajar, paling tidak berkaitan dengan kondisi siswa yang menggemari segala bentuk aktivitas yang prestatif, memiliki anggapan bahwa kegagalan karena kurangnya usaha, selalu menampilkan perasaan suka bekerja keras, dan memiliki pertimbangan atas kegiatan belajarnya di sekolah.

Kegiatan pembelajaran di sekolah dalam masa adaptasi baru, pasca pandemi, akan segera dilaksanakan di seluruh sekolah di negeri ini. Oleh karena itu, upaya untuk menggairahkan dan membangkitkan semangat dan motivasi belajar siswa harus dilakukan dengan baik, terprogram, terpadu, dan berkesinambungan oleh guru-guru di sekolah.Selama pandemi anak-anak yang harus, dengan terpaksa belajar dari rumah (BDR), perlu kiranya, dibangkitan kembali motivasi belajarnya , dengan kembali beraktivitas, berkumpul, belajar bersama, berdiskusi, berpraktek dengan teman-temannya, guru-gurunya di sekolah.

Tidak lama lagi, kiranya sekolah kembali berproses menjadi pusat transformasi kebudayaan, pusat kegiatan penggemblengan karakter siswa, segera akan melangsungkan kewajibannnya, yang dikawal oleh kepala sekolah, guru-guru, dan tenaga kependidikan yang kompeten, berkualitas dan professional. Majulah pendidikan negeri ini, melalui pembelajaran di sekolah, setelah berakhirnya pandemi covid 19 ini, semoga..!

Penulis adalah Kepala SMK YPM 7 Tarik Sidoarjo / Dosen UT Surabaya / Mahasiswa Program  Doktoral Unesa Surabaya / Pemerhati masalah-masalah Pendidikan di Jawa Timur.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *