by

Ungkap Asal-Usul Nama Desa Buncitan dan Candi Tawang Alun di Sidoarjo dengan Upacara Ritual (2)

Catatan Kelayapan: Mashuri Alhamdulillah

Nama Tawang Alun adalah sebuah nama baru untuk ‘kawasan’ tersebut yang merujuk pada tokoh sejarah yang sudah mashur, yaitu Pangeran Tawang Alun. Nama tersebut tercatat dalam beberapa babad dan tradisi lisan tinggalan Blambangan dan buku silsilah beberapa pembesar pribumi pada masa kolonial. Konon, nama diri itu dari sebuah nama tempat di kawasan Banyuwangi, yang juga tercatat dalam naskah kuno Sunda berjudul Bujangga Manik. Arti harfiahnya kurang lebih: langit gelombang atau cakrawala ombak.

Ihwal ngalab berkah pada nama Tawang Alun tidak hanya terjadi pada candi di Desa Buncitan, tetapi juga nama terminal Jember, dan penamaan sebuah situs makam sesepuh di Lamongan, tepatnya di Desa Balun, Kecamatan Turi, yang dinisbatkan pada Tawang Alun, meskipun asal-muasalnya bernama Mbah Alun, cikal-bakal Desa Balun, yang dikenal sebagai Desa Pancasila.

“Kami hanya meneruskan apa yang sudah ada dan dirintis oleh pendahulu. Jadi jika pean tanya apakah ini sudah benar, termasuk penamaan situs itu, saya tidak bisa menjawabnya dengan pasti,” tutur AS (65), seorang pamong desa setempat.

Mashuri Alhamdulillah

Yup, kawasan Desa Buncitan diduga kuat sebagai kawasan kuno, yang terbukti dari sebaran artefak masa lalu di sana, meskipun hanya candi dan arca kecil yang tersisa, karena banyak artefak yang dibiarkan terbenam dan tenggelam dalam waktu. Nama asli kawasan itu Talun.

Menurut kamus Jawa Kuno, Talun berarti daerah persawahan. Tetapi masyarakat terlanjur menyebutnya sebagai kawasan Tawang Alun, sebagaimana yang sudah saya sebut, meskipun secara geografis juga dapat dibenarkan karena dekat dengan laut, yaitu Selat Madura. Tidak diketahui sejak kapan perubahan itu terjadi. Ada yang menduga sejak ditemukannya candi di sana, yang awalnya berupa sumur kuno, kemudian disebut dengan Candi Tawang Alun.

“Kayaknya penamaan Tawang Alun memang dari nama Talun, karena di dekat Kebek dan Dusun Duran, itu ada sebuah kawasan yang dinamakan Talun,” tutur SM, yang juga biasa disapa Mas Kepik.

Sementara itu, AS sebagai pemangku otoritatif desa setempat menjelaskan Desa Buncitan terdiri atas tiga dusun, yaitu Dusun Buncitan, Dusun Kampung Baru dan Dusun Duran. Di wilayah Desa Buncitan sebelah selatan ada daerah yang disebut dengan Talun dan Kebek. Di situlah cikal bakal Desa Buncitan. Hal itu tentu saja berdasarkan tradisi tutur.

Yang unik, untuk mendapat semacam kepastian perihal asal-usul, untuk mengungkap ‘sejarah’ dan legenda desa, dulu, orang-orang yang peduli pada sejarah desa melakukannya dengan jalan ritual. Hal itu karena belum ditemukan catatan tertulis sama sekali. Yang ada hanya mitos dan kisah lisan yang mendasari diadakannya ritual nyadran yang pernah diadakan tiap tahun dan kisah asal-usul yang terkesan othak-athik gathuk.

“Sebagaimana ritual, saya tidak menerimanya 100 persen, tetapi sepotong-sepotong. Dari sepotong-sepotong itulah dirangkai dan disesuaikan dengan kisah lisan dan kepercayaan masyarakat setempat,” tutur AS.

Alkisah, di Kebek ada seorang bernama Ki Gede Tawang Alun (mungkin dari sinilah ada keyakinan bahwa Tawang Alun adalah kepanjangan dari Talun, sehingga akhirnya Talun pun berubah menjadi Tawang Alun). Ia punya anak seorang anak perempuan bernama Puteri Dewi Meranti. Puteri ini berwajah seperti raseksi atau buto wanita. Namun, puteri itu punya keinginan tinggi. Ia ngebet disunting raja Majapahit. Ia mengadu pada ayahnya.

Karena ayahnya termasuk seorang resi atau pertapa sakti, dengan kesaktiannya itu, wajah puteri yang berwujud raseksi itu pun diubah menjadi seorang wanita yang cantik jelita bin molek bin semlohai. Puteri itu dibawa menghadap ke raja Majapahit. Sang raja langsung klepek-klepek dan jatuh cinta, lalu menjadikannya sebagai selir. Singkat cerita, puteri itu lalu hamil.

Puteri Meranti dilanda ngidam. Ngidamnya aneh, ingin makan daging mentah. Dayang-dayang istana pun menurutinya. Hal itu berlangsung setiap hari, hingga dayang-dayang itu curiga, lantas mencari tahu. Ternyata, setiap ketika sang puteri itu makan daging mentah, dari giginya keluar taring dan wajahnya berubah menjadi raseksi. Dayang-dayang langsung lapor pada sang raja, tetapi tidak dipercaya, malah dimarahi.

Suatu ketika sang raja tahu sendiri kalau selirnya adalah seorang raseksi. Akhirnya, puteri itu dipulangkan ke Kadipaten Tawang Alun. Dalam hal ini tidak perlu seperti lagu yang dinyanyikan Betharia Sonata: “pulangkan saja, aku ke rumah orang tuaku”, karena raja segera memulangkannya, meskipun Puteri Meranti masih begitu cinta.

Puteri Meranti melahirkan anak laki-laki dan dinamakan Jaka Dilah. Saat menjelang dewasa, ia ingin tahu ayahnya. Ia bertanya pada ibu dan kakeknya. Kata si kakek, ayahnya adalah raja Majapahit. Jika ia ingin tahu, diminta datang ke Majapahit. Singkat cerita, raja Majapahit tak mengakuinya sebagai anak, tetapi ia akan mengakuinya bila Jaka Dilah bisa membuat lampu di dalam besi yang bisa dilihat dari Majapahit.

Jaka Dilah lalu bilang ke kakeknya. Oleh si kakek yang sakti dibuatkanlah permintaan raja itu, dan lampu besi itu diletakkan di sebuah tempat yang bisa dilihat dari Majapahit. Nama tempat itu kini bernama Desa Damarsi, artinya Damar Wesi, terletak di sebelah selatan Buncitan dan masuk wilayah Kecamatan Buduran. Akhirnya Jaka Dilah pun diakui sebagai anak raja Majapahit.

Adapun disebut Buncitan, bermula pada saat Ki Tawang Alun ingin memperluas wilayahnya, dan akan membuat benteng dan taman. Penghuni di sekitar Kadipaten dipindah ke Duran, ada ada yang bilang ‘saya pindah yang terakhir’. Akhir artinya buncit, maka jadilah Desa Buncitan. Kadipaten Tawang Alun juga mempunyai peninggalan kuno, letaknya di sebelah utara, tepatnya gumuk Buncitan.

“Saya tidak tahu tentang asal-usul nama Duran. Bukan doran yang berarti tangkai untuk memegang cangkul. Kata orang sini sambil guyonan, duran itu bisa jadi ‘geladure sak paran-paran’, alias ngelanturnya terus-menerus,” tutur AS, sambil terbahak.

Begitulah, kisah asal-usul desa yang dipasu dari jalan ritual. Hmmm. Kalau di Babad Kadiri yang datang adalah Butha Locaya, lalu siapa yang datang pada saat ritual di Buncitan? AS menuliskan namanya di secarik kertas, karena tak berani menyebutkannya secara lisan. Ah, sudahlah…

Di sisi berbeda, ada pendapat lain yang melengkapi asal-usul Desa Buncitan yang lebih ngilmiah dan berwawasan geografis dan biologis. “Disebut Desa Buncitan itu karena pada masa kuno, kawasan Buncitan adalah desa paling timur berbatasan laut, alias paling buncit. Desa lainnya yang kini di sebelah timur itu baru. Maka disebut Kalanganyar, sebuah tempat baru. Begitupun dengan Gebang. Itu kan sejenis tanaman laut. Di sini banyak sekali saya temukan fosil dari tanaman laut. Jadi sebenarnya desa Buncitan ini yang paling timur pada masa kuno,” tutur SM.

Adapun kisah asal-usul desa via ritual tersebut masih ada hubungannya dengan adat istiadat warga Dusun Duran yang unik. Menurut AS, sebelum tahun 1970, orang Duran kalau punya hajat atau slametan, adanya membuat tumpeng yang dibawa ke Talun. Di bawah tumpeng, ‘wajib’ dikasih daging mentah. Kenapa dikasih daging mentah?

“Masih ada hubungannya dengan Dewi Miranti yang diyakini berupa raseksi. Diyakini danyang setempat adalah dewi tersebut,” tutur AS. Namun, bagi warga Dusun Buncitan agak berbeda. Kalau punya hajat apapun, baik itu pernikahan, khitan, maupun nadar, mereka akan membuat tumpeng dan dibawa ke Sumur Windu.

Disebut Sumur Windu, karena dulu bentuknya seperti sumur. Walau hujan deras sumur itu tidak terisi air sama sekali, juga sudah ada sejak zaman dulu, maka disebut sebagai Sumur Windu. Ternyata, sumur itu adalah sebuah candi, melalui sebuah proses dialektika alam dan manusia yang bernama kebetulan. Adakah yang kebetulan di dunia ini? Pertanyaannya cik melipe, Cak?! (bersambung)

Sidokepung, 2020

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *