Beranda Budaya Melacak Watu Manak dan Kuburan Mumbul di Tropodo (2)

Melacak Watu Manak dan Kuburan Mumbul di Tropodo (2)

Ihwal kaitan Tropodo dengan keberadaan sebuah bendungan masa kuno juga dinyatakan MM, apalagi di kawasan tersebut seringkali ditemukan artefak kuno. Lebih jauh MM menunjukkan bahwa kawasan itu dulunya adalah bekas tepi sungai Brantas yang sibuk pada masa kuno. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya perahu kuno, jangkar dan hal-hal lain yang menunjukkan pada masa kuno tempat itu adalah sebuah bandar. Bahkan, di lokasi tempat ditemukannya perahu itu tanahnya berpasir bila digali. Hal itu memanjang seperti tepi sungai, meskipun kini sudah padat oleh pemukiman dan menjadi lahan pertanian.

“Dulu, pernah ditemukan perahu kuno. Sudah lama. Tetapi akhirnya dipeceli kayunya, untuk kayu bakar. Jelas, sekarang sudah tak ada. Juga pernah ditemukan jangkar kuno. Selain itu, tanah di sektar penemuan berpasir,” tegasnya.

Selain itu, remah artefak masa kuno yang masih bisa disaksikan ada di beberapa lokasi dalam satu kawasan. Salah satunya adalah Punden Lemah Duwur. Bahasa mboisnya adalah Sitinggil. Disebut Lemah Duwur karena lokasi seluas 12×24 meter dan berada di tengah areal pesawahan itu memang lebih tinggi dari kawasan sekitarnya. Di pinggir situs ditumbuhi pepohonan besar, tua, terkesan angker. Warga menyebutnya dengan pohon Kopo.

Mashuri Alhamdulillah

Di kawasan itu, tampak batu bata kuno terpendam seperti bekas pondasi atau dinding bangunan kuno. Bahkan, ada sebuah areal di pojok barat laut yang berupa tumpukan batu bata kuno, yang di depan lokasi dipasang paving. Tempat itu memang dianggap sebagai kawasan sakral. Biasanya, jika ada warga yang berniat menggelar hajat, mempersembahkan sesaji di tempat itu. Lokasinya kini persis berada di sebelah selatan Makam Cina, Tropodo.

“Tempat itu disebut Lemah Duwur karena tanahnya lebih tinggi dari sekelilingnya. Kini berupa tegalan. Diyakini di situ dulu berdiri bangunan suci pada masa kuno, entah itu Majapahit atau sebelumnya,” tegas MM. “Kawasan itu masuk Dusun Bale Panjang”.

Dalam kitab Pararaton disebut sebuah tempat bernama Balai Panjang, sebuah lokasi penting dalam pelarian Raden Wijaya saat mencari suaka dari kejaran Adipati Kadiri, Jayakatwang, yang berhasil memporakporandakan Singasari. Selain Bale Panjang, tempat-tempat yang dikenal hingga kini adalah Kembang Sri, Terung, Candinegoro, dan lainnya, yang semuanya berada di wilayah Sidoarjo.

Adapun Balai Panjang adalah lokasi Raden Wijaya menunggu sebelum berlayar ke Madura dan bertemu dengan Arya Wiararaja di Sumenep. Peristiwa itu terjadi pada 1292 Masehi. Jika dulu kawasan tersebut adalah tepian Brantas dan sebuah bandar kuno, tentu nama Dusun Bale Panjang bukanlah ahistoris, apalagi di sini juga terdapat reruntuhan bangunan kuno di lokasi Lemah Duwur.

MM menegaskan bahwa tempat itu memang dikeramatkan warga sejak dulu. MM menyitir kisah Mbah Lurah (mantan lurah) yang pernah didengarnya. Alkisah, pada tahun 1929 Tropodo dilanda kekeringan panjang. Beberapa santri yang dipimpin seorang kiai melakukan doa bersama di sana.

Belum selesai doa dipanjatkan, hujan pun turun dengan deras. Di sisi lain, kisah mistis juga mewarnai tempat itu. Ada yang meyakini di sana terpendam begitu banyak pusaka. Bahkan, ada jenis pusaka hidup berupa seekor perkutut ‘ajaib’. Dulu, bila perkutut itu berkicau, kicauannya sampai di balai desa, padahal jarak lokasi itu dengan balai desa sekitar satu kilometer lebih.

“Dulu, kakek saya pernah menangkap perkutut itu, lalu dibawa pulang. Menangkapnya dengan cara memikatnya. Saat di rumah, perkutut itu berkicau dengan mantap. Namun, malamnya, kakek saya didatangi oleh seseorang yang meminta kakek saya mengembalikan burung itu ke Lemah Duwur. Akhirnya, perkutut dikembalikan pada keesokan harinya,” tegas MM.

“Perkututnya bagus. Ada kalung atau bulu kuning di lehernya,” timpal seorang perangkat desa lainnya, memberi kesaksian pada peristiwa itu.

Ihwal asal-usul nama dukuh atau dusun di Tropodo, MM mengaku tidak tahu banyak. Ia menjelaskannya sedikit berdasarkan otak-atik gatuk. Menurut dia, Tropodo berarti trah yang sama. Bale Panjang adalah tempat pertemuan yang panjang. Areng-areng artinya hitam, sedangkan Klagen dulunya bernama Kemlagen.

“Kira-kira begitulah, saya tidak tahu bagaimana sejarahnya sehingga bernama demikian. Kalau Klagen mungkin karena di sana ada Prasasti Kemlagen,” lanjutnya.

Yup, Klagen memang berasal dari Kemlagen atau Kamalagyan dalam dunia arkeologi. Karena terjadi perubahan bunyi bahasa, akhirnya menjadi Klagen. Adapun toponim Tropodo diduga dari kata Jawa Kuno, yaitu tara dan pada. Menurut Kamus Jawa Kuno, tara berari bintang, sedangkan pada memiliki makna banyak, yaitu : 1. daerah, tempat, dunia, 2. bisa pula jalan/cara/sarana. 3. makna lainnya adalah sinar.

Di Tropodo, terdapat sebuah kawasan yang bernama Dempok. Kawasan ini termasuk Dukuh Tropodo, berada di sebelah timur embong dan sebagian di wilayah selatan, sedangkan sebelah barat adalah Tropodo. Warga memang memandang penting tempat ini karena terkait dengan mitos Maling Cluring, yang konon terkapar atau dempok di tempat itu dalam pelariannya.

“Diyakini Maling Celuring kalah dan ‘dempok’ di tempat itu, makanya namanya adalah Dempok,” tegas seorang pamong lainnya lagi. Maklum wawancara dilakukan di Balai Desa, jadi saya didampingi banyak pamong.

Kawasan Dempok segera mengingatkan saya pada sumpah amukti palapa Mahapatih Gajah Mada yang berpantang makan buah palapa sebelum menyatukan negeri-negeri, salah satunya adalah Dempo. Hingga kini sejarawan belum bisa memastikan wilayah itu. Apalagi pada masa lalu Tropodo dan sekitarnya adalah kawasan perdikan, yang bisa jadi, dianggap belum tertaklukkan secara politik oleh Majapahit. Bukankah kawasan itu adalah perdikan pada masa Prabu Airlangga Kahuripan? Tentu, ini juga berbau spekulasi karena ada pendapat yang menyebut bahwa Dempo merupakan daerah yang berada di luar Jawa.

Selain itu, di Tropodo juga sarat dengan situs tilas persebaran Islam. Di Klagen di kenal dengan makam Haji Ali Usman. Letaknya sepelemparan batu dari Prasasti Kamalagyan. Makam itulah yang tenar disebut dengan Kuburan Mumbul. Adapun di Dusun Bale Panjang, dikenal dengan Mbah Kaji. Menurut MM, keduanya memang tak diketahui pasti sejarahnya, tetapi keduanya adalah sesepuh yang babat alas dukuh tersebut ketika memasuki era Islam.

“Kata orang, Mbah Kaji itu menggunakan udeng seperti Pangeran Diponegoro dan menunggang kuda,” tegasnya. “Kalau istilah makam atau kuburan mumbul itu sebenarnya hanya sebutan saja. Bukan makam yang mumbul, tetapi bila ada orang yang bernadar dan hajatnya terkabul di Makam Mbah Haji Ali Usman, ia menaruh mori di atasnya lagi.”

Jadi begitulah yang terjadi. Terkesan, memang ada jasad yang terangkat karena ada kafan baru yang membungkus kuburan. Memang tidak ada catatan tertulis tentang tokoh yang disebut. Namun, berdasarkan pengakuan juru kunci, yang dibenarkan aparat desa, diyakini di kawasan kuburan mumbul tidak hanya ada satu makam. Kisahnya, dulu, ada seorang bangsawan yang mengembara, lalu mampir di kawasan tersebut dan meninggal dunia. Jasadnya kemudian dimakamkan di situ juga.

Meski kesejarahannya masih sumir, tapi kawasan itu meman sarat cerita. Seorang pamong lain menambahkan bahwa di situ dikenal sebagai kawasan wingit sejak dulu. Pada masa penjajahan, tempat itu adalah lalu-lintas yang harus dihindari. Konon, pernah suatu ketika Belanda akan menyerang pejuang lewat utara, alias lewat Jalan Klagen di depan persis kuburan mumbul, ternyata kendaraan yang digunakan Belanda itu ambles semua sehingga tidak bisa jalan.

“Saya mendengar cerita itu dari mbah saya. Mbah saya juga menandaskan bahwa itu adalah makam yang babat alas Dusun Klagen,” tegas pamong desa tersebut.

Demikianlah. Gituh sajah.(habis)

Sidokepung, 2020.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Masukkan nama anda

Berita Terkini

Berita Terpopuler