Beranda Budaya Pj. Bupati Sidoarjo Berharap Seniman Lebih Terlibat Aktif di Sektor Wisata

Pj. Bupati Sidoarjo Berharap Seniman Lebih Terlibat Aktif di Sektor Wisata

SIDOARJOKINI – Sektor pariwisata di Kabupaten Sidoarjo yang terus berkembang akan lebih hidup dan bagus lagi kalau seniman dan budayawan Sidoarjo ikut terlibat di dalamnya.

Demikian harapan yang disampaikan Pj. Bupati Sidoarjo, Hudiyono, dalam silaturahmi dengan seniman Sidoarjo yang tergabung dalam Komunitas Seni Budaya BrangWetan dan Kampung Seni, Rabu (4/11) malam, di Pendopo Delta Wibawa. Sekitar 50 orang seniman dan penggerak kesenian mengikuti silaturahmi ini.

Pj Bupati didampingi Asrofi (Kepala Dinas Dikbud Kab. Sidoarjo), Tjuk Kasturi Sukiadi (budayawan/ekonom), Henry Nurcahyo (Ketua Komunitas Seni Budaya BrangWetan), Ali Aspandi (Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo) dan Machmud Yunus (tokoh Kampung Seni Pondok Mutiara).

Pada silaturahmi ini Pemkab Sidoarjo memberikan bingkisan sembako kepada seniman yang hadir. Sebelum acara dimulai diberikan secara simbolis kepada enam seniman. Hudiyono juga menerima buku karya Henry Nurcahyo, Memahami Budaya Panji.

Dikatakan oleh Hudiyono, saat ini di Sidoarjo terdapat 98 potensi destinasi wisata. Terbaru adalah Wisata Pulau Lusi di Desa Kedungpandan, Kec. Jabon. Sayangnya wisata Pulau Lusi masih terkendala perijinan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sedangkan wisata yang terbaru dan diresmikan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yaitu wisata Edukasi dan Berakuda Panahan di Kalidiwir, Kec. Tanggulangin.

Hudiyono melihat belum banyak keterlibatan dan sentuhan seniman dalam sektor pariwata di Sidoarjo. Sebagai contoh di wisata Pulau Lusi. Demikian juga alun-alun Sidoarjo, bisa diramaikan dengan kegiatan kesenian. “Alun-alun kok sepi, kan bisa diisi baca puisi atau sajak, apa dilarang oleh Satpol PP?” kata Hudiyono.

“Sidoarjo akan lebih hidup bila teman-teman penggiat kesenian makin punya keikhlasan dan dorongan untuk bersedekah menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dan nilai-nilai seni,” kata Hudiyono. Seperti apa langkahnya, Hudiyono meminta seniman merumuskan dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo.

Sebelumnya Machmud Yunus menjelaskan tentang latar belakang Kampung Seni Pondok Mutiara. Berangkat dari keinginan Win Hendrarso (Bupati Sidoarjo periode 2000-2005 dan 2005-2010) agar Sidoarjo mempunyai kampung seni untuk melengkapi kampung yang lain, misalnya Kampung Bebek dan Kampung Batik, maka pada tahun 2008 di Pondok Mutiara diresmikan Kampung Seni.

“Harapannya Kampung Seni menjadi ikon Sidoarjo, space public, dari kita dan oleh kita untuk Sidoarjo. Meski tidak ada anggaran, kerontang, kami tetap menjalankan amanah dari Pak Win Hendrarso,” kata Mahcmud Yunus yang akrab disapa Wili ini.  

Sementara Henry Nurcahyo dalam sambutannya banyak menguraikan kegiatan BrangWetan untuk kegiatan seni-budaya di Sidoarjo. Di antaranya yang dilakukan BrangWetan pada tahun 2018 mendaftarkan Reog Cemandi dan tahun 2019 Tata Cara Pengantin Putri Jenggolo sebagai warisan budaya bukan benda ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sementara Tjuk Kastuari Sukiadi berpesan agar seniman dan masyarakat Sidoarjo tidak melupakan kebesaran Kerajaan Jenggolo di masa lalu. Menurut Tjuk, kebesaran Kerajaan Jenggolo bahkan melebihi Airlangga. “Sidoarjo jangan dilihat kecilnya, tapi lihat kebesarannya tempo dulu,” kata Tjuk.(res)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Masukkan nama anda

Berita Terkini

Berita Terpopuler