3.8 C
New York
Saturday, November 27, 2021

Buy now

Kerajaan Janggala Sempat ‘Abadi’ dalam Alam Dongeng (2-Habis): Perihal Batas Janggala-Panjalu

: Catatan Ramban oleh Mashuri Alhamdulillah

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa Kerajaan Janggala berada di Sidoarjo, Jawa Timur. Toponim nama itu masih berputar-putar di alam gungliwang-liwung untuk menemukan kepastiannya. Namun, yang menarik adalah adanya pendapat yang menyaran bahwa toponim Janggala berasal dari kata ‘Ujung Galuh’, sebagaimana yang terwarta dalam berita Cina pada masa lampau, Jung-Ya-Lu. Karena faktor perubahan bunyi, Ujung Galuh menjadi Junggaluh, dan akhirnya menjadi Janggala atau Jenggala. Repotnya, Ujung Galuh terlanjur diklaim oleh ‘sejarawan’ Surabaya berada di wilayahnya, sehingga masa lalu kota buaya itu mendaku diri sebagai Ujung Galuh atawa Hujung Galuh, meskipun kata Churabaya sendiri sudah dikenal, dan dikekalkan dalam prasasti tinggalan Airlangga, yaitu Prasasti Kamalagyan.

Bisa jadi, klaim dan rebutan tua itu terjadi karena pada masa lalu Sidoarjo, yang dulunya bernama Sidokare, berada dalam satu wilayah administrasi dengan Surabaya sebelum pemekaran wilayah pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Sebagaimana diketahui, baru pada 31 Januari 1859, wilayah Sidoarjo berdiri sebagai daerah otonom dengan nama Kadipaten Sidokare, dan tiga bulan kemudian namanya diubah menjadi Sidoarjo karena nama yang pertama dianggap kurang membawa hoki dan bikin keki.

Namun, tak ada kata Janggala, apalagi Sidoarjo, dalam Kakawin Arjunawiwaha, yang dianggap sebagai karya sastra tertua yang pernah dihasilkan oleh kerajaan yang pernah berdiri di atas wilayah Sidoarjo kini, yakni Kahuripan, meskipun hingga detik ini belum maujud dalam kepastian hakiki. Hal itu karena kakawin karya Rakawi Kanwa itu hanya memparalelkan posisi Airlangga, penguasa Kahuripan dengan Arjuna. Demikian banyak para ahli sastra kuno berikhtiar membaca Arjunawiwaha, termasuk Kats (1912), Poerbatjaraka (1926), Berg (1938), Moens (1950), Zoetmolder (1983), dan Wiryamartana (1990), bahkan ketika ada yang menghubungkan Arjunawiwaha sebagai lampah Airlangga, bahkan terkait dengan silsilah Airlangga, sebagaimana Moens (1950), yang bagi Zoetmolder (1983) dianggap sebagai menggantang asap (Wiryamartana, 1990: 9).

Realitas bahwa karya tersebut dipersembahkan kepada Airlangga adalah benar, tetapi mengaitkannya dengan biografi Airlangga tidaklah dapat semena-mena. Ada kaidahnya, meski kini banyak orang tidak menyukai hal-ihwal berbau kaidah. Bahkan, karya itu dibaptis bukan sembarangan karya tapi sebuah karya beraroma adikodrati, berbalur doa, sebentuk martil untuk menggedor pintu langit. Karya itu digurat Rakawi Kanwa ketika Airlangga berperang dan berharap Sang Prabu memeroleh kemenangan.

Hal itu sebagaimana tersurat pada akhir Arjunawiwaha: “Sampun keketan ing kath Arjunawiwaha ta pangaran ika saksat tambay ira mpu Kanwa tumatametu-metu kakawin brantapan teher angharep samarakarya mangiring i haji sri Airlangga namastu sang panikelanya tanah anumata.” (Wiryamartana, 1990: 123—124).

Kita kembali ke soal Kerajaan Janggala. Di antara para ahli prasasti, yaitu Susanti (2010) dan Bochari (1968; 2018) menyimpulkan bahwa batas antara Jenggala-Panjalu/ Daha adalah Kali Lamong, induk Kali Lanang di kawasan Ngimbang, Lamongan, berdasarkan pada sebaran prasasti tinggalan Airlangga di Lamongan selatan, meskipun Krom (1931) menyebutnya Kali Brantas, dan Muljana (2006) menyebutnya sebagai Kali Porong.

Ihwal itu, Susanti (2010) berdalih kali yang disebut dalam artefak masa Airlangga adalah Kali Widas, alias Brantas. Tinggalan tersebut berupa Prasasti Kamalagyan yang berada di Dusun Kemlagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo. Disebutkan usaha-usaha Airlangga untuk membuat sebuah bendungan untuk melindungi rakyat dan sawah-sawahnya dari banjir, karena ada orang-orang yang ingin melakukan sabotase. Bendungannya disebut Waringin Sapta. Inilah salah satu argumen Susanti (2010) bahwa kali yang ‘dibuat’ oleh Bharada sebagai pemisah Janggala-Panjalu adalah Kali Lamong bukan Kali Porong sebagaimana klaim Muljana (1979; 2009) karena pada masa Airlangga, Kali Porong belum terbentuk karena Brantas masih setia pada jalurnya mengalir ke utara dan sesekali ia meluap ke timur membanjiri perkampungan dan sawah, sehingga perlu dibuat semacam bendungan.

Namun, Amiq (2006) dalam risalahnya yang ciamik soro terkait dengan hari jadi Sidoarjo, yang mengutip Negarakertagama, entah versi yang mana karena tidak disebutkan sumbernya, seakan-akan mendukung pendapat Muljana (1979/2009), dengan menyatakan dalam sebuah kutipan tanda miring, bahwa kali yang dimaksudkan adalah memang Kali Porong, dengan mengacu pada nama muasalnya yaitu Poro, yang berarti pembagian, dan mengalami semacam perubahan bunyi bahasa, entah itu asimilasi, disimilasi, modifikasi vokal, netralisasi, zeroisasi, metatesis, diftongisasi atau monoftongisasi, kemudian berubah menjadi Porong (Amiq, 2006: 16), meskipun muncul pendapat lain tentang arti Porong, yang berbeda jauh dari kata “poro”.

Meskipun posisi sungai yang membelah Jenggala-Panjalu dalam tulisan ala kadarnya ini begitu penting dan gawat, tetapi ihwal sungai itu tidak ditemui dalam Serat Calon Arang, sebuah karya sastra Jawa Kuno yang melekat pada Airlangga. Serat itu hanya menggurat pembagian kerajaan sebagai barat dan timur semata (Santoso, 1975), meskipun kabar yang tersiar kemudian dalam karya sastra yang lebih muda bahwa pembagian Kerajaan Kahuripan menjadi dua memang berbatas pada sungai, yang tercipta dari daya linuwih Bharada.

Dalam Serat Calon Arang dikisahkan, pembelahan kerajaan itu diawali dari resah hati Airlangga yang bermuara pada Bharada sebagai tokoh yang mulai dikenal ketika terjadi wabah besar yang melanda kerajaan karena dipicu urusan personal seorang janda. Bharada mampu meredam wabah tersebut dengan membungkam janda dari Girah, Calon Arang. Setelahnya, ketika Airlangga bertekad menyerahkan kerajaan ke puteranya terjadi persoalan, sehingga Airlangga pun duduk lagi di singgasana, meskipun peristiwa ini tidak tergurat dalam Serat Calon Arang.

Serat itu hanya menggurat dalam kondisi kerajaan normal, raja ingin membagi mendudukan kedua anaknya di pulau Bali karena Airlangga juga punya hak pada tahta di Bali, dan di Jawa. Pada masa-masa inilah, Airlangga meminta nasehat Bharada. Bharada pun bergerak dan ‘terbang’ ke Bali untuk bernegoisasi dengan Mpu Kuturan. Karena lobi Bharada yang menganut Budha Mahayana pada Kuturan penganut Hindu tidak berhasil, alhasil Jawalah yang dibagi menjadi dua. Berikut kutipannya.

Baginda menyembah di kaki sang pendeta, lalu berkata, “Tuanku, kalau begitu janganlah memaksakan diri, sebab memang bukan main kesaktian pendeta Bali itu. Kalau dipaksakan, hanya akan berakibat mencari penyakit diri sendiri. Pulau Jawa sajalah kini yang dibagi dua.”

Berkatalah sang pendeta, “Itu pun baik. Saya setuju sekali, Baginda. Namakanlah kerajaan-kerajaan itu Janggala dan Kadiri. Jangan terlalu lama, persiapkanlah segera, selagi saya di sini, saya akan pergi ke penginapan dahulu.” (Santoso, 1975: 56)

Namun, menurut Serat Calon Arang, setelah pembagian kerajaan itu, yang diresmikan dengan upacara dan selamatan, terjadi permusuhan antara raja Janggala dan raja Panjalu. Bahkan, keduanya berhadap-hadapan dan siap menggelar perang akbar. Pada saat itulah kiprah Bharada kembali mencuat dengan menekankan pada usaha-usaha lahiriah, dengan membagi upeti yang sama antara Janggala dan Panjalu, dan dengan ancaman: siapapun raja yang tidak menurut kata-katanya, ia akan dijatuhi kutukan. Kedua raja pun mematuhinya. Ending indah untuk karya yang mengisahkan amarah janda dari Girah atau Gurah sekarang. Sungguh, kendi Bharada yang berisi air suci dan ciprataannya tidak hadir dalam Serat Calon Arang.

Baru dalam Negarakertagama, air kendi yang menjadi sungai pembatas Jenggala-Panjalu itu muncul pada pupuh ke-68. Alkisah, Bharada terbang ke angkasa sambil mengucurkan air kendi. Air kendinya membelah tanah dan menjadi sungai. Ketika di dekat Desa Palungan, jubah Bharada tersangkut ranting pohon asam. Ia marah dan mengutuk pohon asam itu menjadi kerdil. Oleh sebab itu, penduduk sekitar menamakan daerah itu Kamal Pandak, yang konon berarti asam kerdil. Usai menetapkan batas Kerajaan Janggala-Panjalu berdasarkan kucuran air kendi, Bharada pun mengucapkan kutukan: Barang siapa berani melanggar batas tersebut hidupnya akan mengalami kesialan. Ihwal kutukan dan perjalanan Bharada ke Bali dalam Negarakertagama memiliki kesamaan motif dengan Serat Calon Arang, meskipun dalam Serat Calon Arang tidak menyebutkan air kendi, apalagi sungai.

Menurut Muljana (2006: 29), uraian Rakawi Prapanca dalam Negarakertagama sangat mirip dengan isi Prasasti Mahaksobhya (1289 M) yang dikeluarkan Kertanagara, raja Singhasari antara 1268—1292 M, dengan sebuah traktat bahwa kutukan Bharada itu sudah tawar karena Janggala-Panjalu sudah disatukan oleh Wisnuwardhana, raja Singasari antara 1248—1268 M, ayah Kertanegara. Dengan kata lain, Prapanca ‘menjiplak’ prasasti yang dulu ada di Candi Jawi tersebut. Naga-naganya, adagium bahwa ‘penyair kecil hanya meminjam sedangkan penyair besar mencuri’ sudah berlangsung sejak zaman baheula. Efeknya, Negarakertagama pun selalu menyebut nama Janggala-Panjalu berkali-kali secara bersama-sama dan tidak terpisah sebagai dua yang satu, alias dwitunggal.

Dimungkinkan, Prapanca taklid pada klaim Kertanegara bahwa dua kerajaan yang pernah berpisah dari satu Kahuripan itu memang sudah ‘menyatu’, sebagai upaya mendem jero mikul duwur, karena bagaimanapun Majapahit tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Singhasari, bahkan dianggap sebagai pewaris sahnya. Apalagi, posisi Raden Wijaya setali tiga uang dengan posisi Airlangga. Keduanya sama-sama menantu dari raja yang sedang berkuasa, Darmawangsa dan Kertanegara, yang dihabisi musuh-musuh mereka dari kerajaan-kerajaan vatsal mereka yang terbilang cabe rawit.

Dengan demikian, Janggala bukanlah sebuah kerajaan dongeng, meskipun seakan-akan kekal dalam tradisi lisan, cerita Panji, dan naskah kuno lainnya. Meskipun tilas dan tinggalannya di wilayah Sidoarjo kalang-kabut dan posisi pusat keratonnya masih babak-belur, tetapi beberapa prasasti muktabar menunjukkan keberadaan Janggala sebagai generasi penerus Kahuripan. Menurut Susanti (2010), raja yang memerintah Jenggala secara berurutan adalah Mapanji Garasakan, Alahyung Ahyes, Mapanji Garasakan lagi, dilanjutkan Sri Smarasotsaha. Ihwal Mapanji Garasakan muncul dua kali, Susanti (2010) menjelaskan, telah terjadi perebutan kekuasaan di internal Kerajaan Janggala sendiri. Alahyung Ahyes mengkudeta Garasakan, tetapi akhirnya Garasakan dapat kembali memulihkan tahta (Susanti, 2010: 198). Garasakan memang raja terbesar Janggala, meskipun posisinya hampir mirip dengan ayahnya, Airlangga, ketika berusaha kembali mengukuhkan disintegrasi dan ujian, sebagaimana yang termaktub dalam doa Rakawi Kanwa, di akhir Kakawin Arjunawiwaha.

BUKTI PRASASTI

Prasasti warisan Mapanji Garasakan yang sudah diidentifikasi adalah Prasastri Melenga (974 S/1052 M), Prasasti Garaman (975 S/1053 M), Prasasti Kambang Putih dan Prasasti Turun Hyang B. Prasasti yang pertama dikeluarkan adalah Prasasti Turun Hyang B yang bertarikh 966 S/1044 M, yang menjadi bukti bahwa pembagian kerajaan Kahuripan benar-benar sebuah peristiwa sejarah (Susanti, 2010: 196). Adapun Prasasti Malenga dikeluarkan Raja Sri Maharaja Haji Garasakan berangka tahun 974 S/1052 M. Prasasti ini berbentuk 7 lempeng tembaga, dan merupakan salinan (tinulad) dari aslinya yang kemudian diberi angka tahun 1258 S/1336 M. Prasasti ini menceritakan pemberian anugerah status sima kepada Desa Malenga, karena penduduk desa tersebut telah membantu raja melawan musuhnya, yaitu Haji Linggajaya dari Tanjung. Prasasti ini ditemukan di Desa Banjararum, Kecamatan Rengel, Tuban, dan sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta, dengan nomor inventaris E-18.

Prasasti lain dari masa Janggala adalah Prasasti Kambang Putih. Prasasti ini sebuah peninggalan tertulis yang mengaitkan antara Mapanji Garasakan dan Kambang Putih. Bila Prasasti Malenga terbuat dari tembaga, prasasti ini terbuat dari batu dan disimpan di Museum Nasional Indonesia dengan kode D.23. Prasasti yang menjadi sumber penting kesejarahan Tuban ini telah diterjemahkan Brandes. Meski bagian muka atas tahunnya tidak terbaca, tetapi di bagian bawahnya masih bisa dibaca dan terdapat cap Garuda Mukha, seperti prasasti lain semasa Airlangga. Adapun isinya menyatakan bahwa Sri Mapanji Garasakan berkenan menghadiahkan sima, tanah perdikan dan pembebasan pajak kepada kepala desa Kambang Putih. Peristiwa penganugeragan tersebut disaksikan oleh 12 sesepuh setempat, yang disebut dengan buyut, yang nama-namanya disebutkan lengkap (Buchori, 1968). Prasasti Garaman (975 S/1053 M) mengenai anugerah sima oleh Maharaja Janggala pada Desa Garaman, yang memberi laporan kedatangan musuh, yaitu kakaknya sendiri, Raja Panjalu (Susanti, 2010: 198). Raja Janggala yang terakhir adalah Sri Smarasotsaha, yang diidentifikasi dari tinggalannya, yaitu Prasasti Sumengka (981 S/1059 M).

Prasasti-prasati itu memiliki cap sama dengan Arilangga, yaitu Garudha Mukha, yang menunjukkan bahwa Janggala adalah penerus Kahuripan atau anak-anak kandung Airlangga, yang memiliki wilayah di utara sungai ‘tilas’ air kendi Bharada, yang berbeda dengan Kerajaan Panjalu yang menguasai selatan sungai, yang ditengarai sebagai keturunan Darmawangsa Teguh (Buchori, 1968; Susanti, 2010) meskipun Janggala akhirnya hilang dari peredaran waktu ketika Janggala kalah perang dan dihabisi Panjalu, yang masih batih sendiri. Keberadaannya pun seakan-akan abadi dalam alam dongeng.(*)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Latest Articles