Beranda Ekonomi Penjualan Tumisan Ikan Mengandalkan Marketplace dan Jejaring Sosial

Penjualan Tumisan Ikan Mengandalkan Marketplace dan Jejaring Sosial

SIDOARJOKINI – Tumisan Ikan, produk Vivi Ghufriana Yuwanita, mengandalkan marketplace dan jejaring sosial. Untuk bisa memenuhi permintaan customer Vibi rela meluangkan waktu untuk memantau penjualan dan melayani pelanggan. Penjualan secara daring yang laris ini membuat Vivi tidak menjual produknya ke toko offline kecuali hanya beberapa saja.

“Saya kencengnya memang di online terus di Facebook juga lumayan banyak permintaan dan sudah menyebar dari Sabang sampai Merauke, alhamdulillah,” tutur Vivi.

Bahkan di masa pandemi ini Vivi makin kebanjiran pesanan. “Karena memang dibutuhkan ikan untuk makan di rumah karena juga untuk menjaga imun. Cuma kemarin kendala dari kemasannya  karena pabriknya di daerah Rungkut zona hitam, ya. Kalau untuk permintaan (Tuman) meningkat,” kata Vivi.

Manisnya berbisnis kini dirasakan Vivi. Penjualan Tuman meningkat seiring dengan kebiasaan masyarakat berbelanja online terutama di masa pandemi. Tapi kisah manisnya ini tidak meninggalkan cerita perjuangannya yang jatuh bangun.

“Banyak (cerita) sukanya. Alhamdulillah. Saya mengawali memproduksi Tuman ini karena bukan buat produk dulu terus cari pemasarannya, karena sudah ada permintaan dari nasi bakar tadi saya berusaha untuk menginovasi produk saya dan akhirnya jadilah Tuman,” ujarnya.

“Kemudian berjalannya waktu saya ditanya apa sama kayak produk A, kayak produk B, saya nggak tahu brand-brand yang mereka sebutkan malah nggak tahu sama sekali. Nah, akhirnya mereka bilang, ya ini mungkin (cerita) duka, ya, mereka bilang (produk) yang itu lebih kayak gini, lebih kayak gini, lebih di situ, sih, karena saya nggak bertemu dengan kompetitor dulu awalnya,” lanjut Vivi.

Vivi merasa masih kalah dengan kompetitor besar apalagi yang sudah menjadi produk pabrikan. Wanita yang menjadikan pengalaman sebagai guru paling berharga ini terus berusaha meningkatkan kualitas produknya hingga bisa mengejar mimpinya untuk go internasional.

“Sejauh ini harus siap menghadapi seperti itu (kompetitor besar) karena belajar dari pengalaman. Saya tidak tahu kompetitor saya kayak gitu. Saya cuma tahunya, oh, produk saya ada yang minat sementara saya nggak tahu kompetitor. Nah, ternyata setelah berjalannya waktu ada yang membandingan dengan produk A dan B. Bahkan produk yang sudah produk pabrik kayak gitu. Ya, harus siap menghadapi kaya gitu. Sekarang saya berpikirnya untuk menjadi sebuah pabrik, kalau sudah parbrik, kan digempur (serang) sana digempur (serang) sini kan harus kuat,” tutur Vivi.

Dia pun membagikan tips menghadapi pandemi ini agar tidak boleh patah semangat, terus berinovasi dan berdoa. Jika semangat patah, kata Vivi, kondisi tubuh akan turun dan merugikan diri sendiri. (res)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Masukkan nama anda

Berita Terkini

Berita Terpopuler