Beranda Headline Awal Mula Gambus Mempengaruhi Musik Melayu Klasik

Awal Mula Gambus Mempengaruhi Musik Melayu Klasik

Gambus dijuluki juga irama padang pasir. Ini karena memainkan lagu-lagu Arab. Era penjajahan Belanda, gambus berkembang di nusantara. Catatan Ahmad Supandi dalam laman lembagakebudayaanbetawi.org, puncaknya awal abad ke-19, atau sebelum Kemerdekaan RI..

Sejumlah ahli musik Belanda, Kurt Sachs, Hornbostel, Kunst, Farmer, yang melakukan studio etnomusikologi, gambus berkembang tak hanya di Timur Tengah, India , tapi juga di Asia Tenggara termasuk Hindia Belanda (Indonesia). Sedang menurut C.C. Berg, juga peneliti Belanda, gambus di Hindia Belanda datang dari keturunan Arab Hadramaut (Yaman). Biasanya, gambus diundang saat acara pesta perkawinan, khitanan atau resepsi lainnya.

Munif Bahasuan

Abad 18 hingga 19-an, bagi warga Betawi dan Surabaya, sangat bergengsi bila pesta perkawinan menghadirkan gambus. Kalau di Jawa, para Wali Songo menggunakan musik gamelan peninggalan Hindu sebagai ala dakwahnya, sedang para Habib dari Hadramaut, memasukkan ajaran Islam melalui lagu-lagu gambus.

Dua tokoh utama zaman itu, yakni Syeh Albar, ayah kandung Ahmad Albar, di Surabaya. Dan SN Alaydrus di Jakarta. Mereka terkenal mulai awal tahun 1940-an. “SN Alayidrus mengembangkan orkes harmonium dengan mempertahankan alat petik khas gambus. Orkes Harmonium ini,  pada 1950 menjadi orkes melayu. Yang menjadi cikal bakal orkes dangdut,” kata Ahmad Supandi.

Sebelum masuk film-film India, yang kelak mempengaruhi lagu-lagu dangdut, sebelumnya film-film Mesir sudah masuk ke Batavia atau Surabaya. Themesong film-film Mesir ini, tentu saja, lagu-lagu Arab. Atau yang dikenal sekarang lagu gambus. Importir film-film Mesir adalah pengusaha keturunan Arab, Syed Mohamad Redho Shahab.

Dari film-film Mesir ini, maka tenarlah para penyanyinya seperti Oum Kulthum, Abdul Wahab, Farid alatros, Fairuz, Shobah ataupun Abdul Muttalib.

Awal 1950-an, gambus sudah eksis siaran live di RRI Jakarta, tiap malam Jumat.  Yang tampil group Al-Wardah pimpinan Muchtar Lutfi atau Al-Wathon pimpanan Hasan Alaydrus. Namun sejak 1960-an atau mulai pemerintahan “Demokrasi Terpimpin”,  Bung Karno mulai menolak kesenian yang berbau asing. Tak hanya musik Barat, tapi juga lagu-lagu gambus.

Di tengah politik yang berkecamuk, muncul sejumlah group gambus yang mulai memainkan lagu-lagu Melayu, seperti Orkes Melayu (OM)  Sinar Medan pimpinan Umar Fauzi Aseran, OM. Kenangan pimpinan Husein Aidit. Sedang Munif Basuan dan Adi Karto mendirikan OM Kelana Ria.  Ada juga group Al Hilal.

Sejumlah orkes melayu ini, berhasil mengorbitkan penyanyinya. Misalnya OM Sinar Medan, memunculkan Emma Gangga, A.Haris (lagunya terkenal “Kudaku Lari) dan Hasna Tahar. Sedangkan OM Kenangan mengorbitkan Johana Satar, Nur Seha maupun Husein Aidit. Mereka dikenal tak hanya di Batavia tapi juga ke penjuru Nusantara, utamanya di kalangan penggemar Orkes Melayu klasik.

Pada masa itu pula lahir OM Chandara Lela pimpinan Husein Bawafi. Dari orkes ini, melahirkan superstarnya, Mashabi. Kelak, Mashabi ini, menjadi bintang gambus sepanjang masa. Sedangkan di Surabaya lahir OM Sinar Kemala pipinan A. Kadir.

Setelah tumbangnya PKI tahun 1966, lahirlah lebih banyak orkes gambus atau Melayu di Jakarta, seperti Al-Hilal, Al-Fatah pimpinan Rahmat dengan penyanyi utamanya Rafikoh Datul Wahab. Lalu grup gambus Wardatul Usyak pimpinan Habib Abdurahman Al- Habsy,  Al-Usyak pimpinan Zein Al-Hadad, El-Madora pimpinan Muchsin Al-Attas,  El-Badar pimpinan Ahmad Vad’ak (artisnya Soraya bin Thalib) maupun group gambus Assabab.

Dekade 90-an, dengan musik lebih modern, dari Warung Buncit,  Jakarta, lahirlah group gambus Arrominia pimpinan Ahmad Supandi Al-Ghozali. Bermarkas di warung Buncit Jakarta. Selain memainkan gambus, mereka juga memainkan lagu-lagu kasidah bernafaskan Islami. Saat itu mereka muncul di TVRI. Dan juga tampil di TV swasta.

Akhir 90-an, dari Jatim, lahir group gambus modern Balasyik dari Jember, pimpinan Habib Yahya. Menariknya, di Jatim, orang menyebut gambus sebagai “musik balasyik.” 

Gambus Betawi bisanya dimainkan dengan alat musik biola, bass, akordion,  suling, gendang dolak (gendang lontong), tamborin, bas, kibor, bongo, durbaka atau dumbek. [Mutlu Torun dalam bukunya Gambus Metodu (Gelenekle Geleceke)]

Gambus masuk dalam kategori alat musik “Chordophone” yakni musik yang dihasilkan dari sumber bunyinya dari getaran dawai. Dawai gambus dimainkan dengan cara dipetik. Gitar gambus  berbentuk buah labu ini, kerap dimainkan Mustafa Daood DEBU, asal Amerika Serikat yang sudah hijrah di Jakarta.

Suara gambus yang khas dihasilkan karena  resonansi yang unik. Senar gambus dipasang melintang dari ujung bawah badan instrument. Jumlah senar gitar gambus antara 5-7 senar. Pada awalnya senar terbuat dari usus binatang yang disebut gut. Sekarang pakai senar khusus yang diproduksi pabrikan khusus untuk gitar gambus.

Menurut Wikipedia, ansambel tradisional gambus atau pengucapan takht (harfiah tidur dalam bahasa Arab) terdiri dari empat  instrumen melodi utama, yakni gitar gambus, suling, akordion, biola dan perkusi (tamborin) . Kadang juga ada tambahan alat musik dolak, jawzah atau kamanjah. Zaman Belanda, juga masuk alat musik Barat, seperti flute, saksofon, klarinet, trompet, trombone, cello, biola alto atau  bas cello.

Sedang gambus modern, lebih seperti big band pada umumnya. Sudah menggunakan gitar dan bas elektrik, kibor synthesizer dan satu set drum, selain juga tambahan biola, darbuka atau suling. Sudah tidak ada akordion. Komposisi seperti ini, tampak dari group gambus modern Balasyik Jember pimpinan Habib Yahya.(bagian 3/bersambung)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Masukkan nama anda

Berita Terkini

Berita Terpopuler