Jaringan Kereta Api di Jawa Timur Wujud Perkembangan Kota Surabaya

Oleh Nanang Purwono (Pegiat Sejarah)

Peluit pemberangkatan kereta api ditiup dan lentera baja diangkat memberi tanda dimulainya begandringan (diskusi) yang membahas tentang sejarah kereta api di Jawa Timur di Lodji Besar pada Jumat (26/11). Diskusi berjalan gayeng seolah berada di dalam rangkaian gerbong kereta api yang ditarik lokomotif uap. Pelan tapi pasti yang akhirnya sampai di “stasiun tujuan”, pemahaman kolektif tentang riwayat kereta api di Jawa Timur.

Tiga serangkai “masinis” dipendegani oleh Tjahaja Indra Kusuma (pegiat dan pemerhati sejarah kereta api dari Malang), Agung Widyanjaya (kolektor buku buku kereta api dari Sidoarjo) dan Eko Jarwanto (guru dan pegiat sejarah dari Gresik). Mereka bertiga berkolaborasi apik membawa rangkaian gerbong menuju ke pemahaman kolektif tentang sejarah kereta api di Jawa Timur.

Indra yang kebagian awal “menjalankan kereta” mengisahkan tentang riwayat kali pertama dibukanya jaringan kereta api di Jawa Timur dan upaya dibukanya stasiun stasiun lain serta pembangunan jaringan rel kereta api. Dari koleksi data yang dimilikinya, Indra menjelaskan bahwa stasiun pertama di Jawa Timur adalah Stasiun Kota atau Stasiun Semut yang dibangun pada 1878. Stasiun Kota menghubungkan stasiun Bangil dan stasiun Pasuruan dengan panjang lintasan 63 km.

Pembukaan jaringan kereta api Surabaya Kota – Bangil – Pasuruan (1878) ini adalahl pembangunan jaringan kereta api ke tiga di pulau Jawa setelah Kemijen (Semarang) – Tanggung di Jawa Tengah (17 Juni 1864) dan Batavia – Buitenzorg di Jawa Barat (31 Januari 1873).

Adapun bangunan stasiun Surabaya Kota pertama adalah bangunan yang sebenarnya berada di dekat (tmur) Jembatan Bibis yang kala itu langsung berhadapan dengan gedung kantor stasiun Kereta Api yang lokasinya di Bibis. Berikutnya pada 1898 dibangun stasiun kedua (baru) yang jaraknya sekitar 100 meter di timur stasiun lama (1878). Ini sungguh luar biasa dan istimewa bahwa di satu lingkungan yang sama, hanya berjarak 100 meter, dibangun dua stasiun. Kedua bangunannya cukup megah. Tapi stasiun pertama sudah dibongkar dan menyisakan stasiun kedua yang bangunannya masih bisa dilihat hingga sekarang.

Pembangunan jaringan kereta api, khususnya di Jawa Timur, sesungguhnya merupakan dampak dari awal perkembangan kota kota besar di Jawa, termasuk Surabaya pada 1870. Handinoto (Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya 1870) menuliskan bahwa pada 19 April 1871 tembok benteng (kota) yang mengelilingi kota Surabaya dibongkar dan ini memacu perkembangan kota ke arah selatan. Apalagi tahun 1870 juga merupakan tahun terbitnya undang undang gula (suikerwet) dan undang undang agraris (agrarischwet).

Kebijakan ini tidak hanya berpengaruh di Surabaya tapi juga di Jawa Timur. Sementara Surabaya sendiri di era VOC sudah menjadi ibukota wilayah Ujung Timur Jawa yang dikepalai oleh Gezaghebber (Jawa: Sakeber). Akibat dari Agrarischwet, lahan lahan perkebunan mulai dibuka, termasuk oleh swasta dalam mengelola perkebunan seperti tebu, karet, kopi dan kakau. Akibatnya, transportasi menjadi sangat dibutuhkan, utamanya adalah kereta api. Indra menjelaskan bahwa pembangunan stasiun stasiun dan jaringan rel kereta api selalu mendekat pada kantung kantung Industri atau pabrik gula.

Pasuruan adalah salah satu kantung perkebunan tebu dan pabrik gula. Dari Pasuruan, jaringan kereta api menjulur ke Malang. Di sana juga ada sentra penghasil gula. Pun demikian dengan pembukaan jaringan kereta api ke arah Krian, Mojokerto, Jombang, Kediri, Tulungagung. Ke arah Timur diperpanjang dari Pasuruan menuju Probolinggo, Jember hingga Banyuwangi. Kesemuanya jaringan ini bermuara di Surabaya yang dari stasiun Kota terhubung dengan Sidotopo, Kalimas lalu ke Pelabuhan Tanjung Perak.

Rancang bangun pelabuhan laut Tanjung Perak pada awal abad 20 ternyata juga dilengkapi dengan sarana jaringan kereta api. Tujuannya untuk menghubungkan transportasi barang dan komoditi yang akan diangkut ke daerah lain termasuk ke negara lain dengan menggunakan kapal. Kraus & De Jong merancang pembangunan jaringan kereta api di pelabuhan Tanjung Perak pada 1910. Kemudian perencanaan ini dieksekusi pada 1912 dengan beberapa pengembangan dari design awal (Asia Maior: Soerabaja 1900-1950 Havens, Marine, Stadsbeeld, Portal, Navy, Town scape).

Semua jaringan kereta api ini dihandel oleh maskapai Stadspoorwagen (SS). Menurut Indra, kala itu maskapai ini menjadi perusahaan yang bergengsi dan berpengaruh di eranya. Ini terbukti bahwa perumahan para pegawai kereta api sangat mewah dan mentereng yang tidak jauh dari sekitar stasiun dan rel kereta api. Sementara di Surabaya sendiri, perumahan kereta api cukup luas. Misalnya di daerah Semut, Gubeng dan Wonokromo. Sampai sampai di eranya, maskapai kereta api ini memiliki Serikat buruh yang kuat.

Jaringan SS tidak hanya melayani jasa angkutan barang dan komoditas hasil perkebunan dan gula, tapi juga angkutan penumpang. Tapi dari hasil angkutan gula inilah, SS mendapat banyak keuntungan. Sampai sampai SS memiliki anak anak perusahaan yang bisa lebih mendekat ke sumber sumber komoditas. Ringkasnya Kereta Api memiliki peran yang besar dalam perkembangan di Jawa Timur yang sekaligus menjadi kontributor pendapatan pemerintah Hindia Belanda yang penting. Secara langsung kereta api juga menyokong perkembangan kota Surabaya.

Sementara “masinis “ Agung Widyanjaya (Sidoarjo) dan Eko Jarwanto (Gresik) melengkapi data dan fakta. Melalui buku buku langka tentang perkeretaapian di Jawa Timur dan bahkan di Hindia Belanda, Agung ingin menujukkan data-data otentik yang bisa dijadikan rujukan tentang sejarah kereta api. Buku buku yang dikoleksi Agung adalah hasil perburuan nya di beberapa negara Eropa seperti misalnya Belanda dan Jerman.

Di antaranya adalah “De Stoomtractie op Java en Soematra”, “Modjokerto in de Motregen”, “Het Indische Spoor in Oorlogstijd” dan “Station en Spoorwegen op Soematra”. Tidak ketinggalan Agung juga membawa saham saham kereta api yang terbit di jamannya dan saham saham itu kini menjadi miliknya.

Eko Jarwanto yang datang dari Gresik memaparkan bangunan bangunan bekas stasiun kereta api dan perumahan pegawai kereta api yang masih berdiri kokoh di Gresik. Diskusi bertajuk “Ngobrolin Masa Lalu Sejarah Kereta Api di Jawa Timur” ini dihadiri oleh sekitar 75 hadirin. Mereka dari unsur mahasiswa sejarah Unair, staf dan pegawai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya, egiat sejarah dan umum. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *