Anas Dimyati, Usahanya Melesat karena Ikhlas Berjuang Kuati Aswaja

Kaji Gondrong. Begitu dia biasa disapa. Sapaan itu khususnya sangat terkenal di dunia jasa pengurukan di Gresik dan Sidoarjo, Jawa Timur umumnya. Disebut nama Kaji Gondrong, orang sudah tahu siapa yang dimaksud.

Nama aslinya Anas Dimyati, atau Ir. H. Anas Dimyati. Warga Perumtas II, Desa Popo, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, ini rambutnya hampir sebahu. Rambutnya lurus dan hitam. Karena rambutnya yang gondrong itulah Ketua MWC NU Wonoayu ini mudah dikenal.

Anas Dimyati selama ini, melalui CV Amanda Duta Pratama, boleh dibilang sukses sebagai kontraktor, khususnya pengurukan atau katenfil, penyediaan lahan, pembuatan jalan, pembuatan saluran dan pagar beton. Saat ini karyawannya belasan orang, baik staf administrasi maupun lapangan.

Pria kelahiran Gresik ini memulai usahanya sejak awal tahun 2000-an. Tapi usahanya melesat sejak tahun 2010-an. “Tahun 2006 saya masih ikut mertua. Tahun 2007 saya pindah ke Perumtas ini, mengambil rumah tipe 36, kredit di bank, dan masih sepeda motoran,” kata Anas.

Sekarang orang melihat Anak sebagai pengusaha berhasil. Rumahnya tiga, satu rumah awal tetap dipertahankan, sedangkan dua rumah lagi dibangun menjadi satu dengan konsep klasik. Sementara di rumahnya terpakir CRV terbaru, Inova dan Pajero. Lalu hingga kini Anas sudah tiga kali naik haji (baik bersama orangtua dan istri) dan umroh bersama keluarga.

Diakui oleh Anas, keberhasilannya di dunia usaha tidak terlepas dari ketulusan dan keikhlasnya berjuang di jalur agama melalui Ahlussunnah Wal-Jama’ah (Aswaja). Anas meyakini bahwa berjuang demi NU atau memperjuangkan Aswaja banyak memberinya barokah.

Dawuh poro kiai, NU itu barokahi ya malati. Tapi saya merasakan barokahi. Sejak kultural berjuang di NU, juga di struktural, saya berjuang di NU tidak punya kepentingan apa-apa. Yang saya rasakana seperti itu. Memperjuangkan agama melalui organisasi NU ada saja jalan, proyek ada, inikah yang dinamakan barokah?” katanya.

Anas total berjuang mengamalkan ajaran Aswaja sejak pindah ke Perumtas II. Terlebih kemudian Anas dipercaya menjadi Ketua RT 3, RW IV Desa Popo, Kecamatan Wonoayu. Satu periode Anas menjadi ketua RT, lalu lanjut dua perode menjadi ketua RW. Anas menjadi ketua RT dan RW bermodalkan pengalamannya aktif di organisasi semasa kuliah di salah satu PTS di Surabaya dan menjadi Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) di desanya, Desa Sumberame, Kecamatan Wringinanom, Gresik.

Posisinya menjadi ketua RT dan RW itulah dimanfaatkan untuk menyebarkan ajaran Aswaja. Semula dibantu tiga empat warga. Kemudian mendapat sambutan positif dari warga Perumtas. “Saya hanya menguati amalan Aswaja, hanya mendukung, back-up, karena saya bukan orang pondokan,” katanya dengan volume suara yang pelan.

Hasil fisik selama dua periode menjadi RT adalah berhasil membangun musala di RT-nya. Kemudian, ketika menjadi RW, berhasil membangun masjid. Kegiatan keagamaan di antaranya shalawatan seminggu sekali dan menjadi sponsor utama syiar agama melalui Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di Perumtas.

Lama berjuang di jalur kultural, tahun 2017 Anas Dimyati dipercaya duduk di struktural, yaitu menjadi Ketua Tanfidziyah NU Ranting Desa Popo, sekaligus merangkap bendahara LAZIS MWC NU Wonoayu.

“Jiwa berjuang di NU, baik lewat struktural maupun kultural, bagi saya sama saja, yang penting niatnya tulus dan ikhlas. Mengurus organisasi itu tanpa amrih dan tanpa tujuan lain kecuali ibadah. Berjuang di NU harus noto ati ikhlas. Hematnya, tidak ada pekerjaan yang berat kalau dikerjakan dengan rela dan ikhlas,” tutur bapak dua orang putri ini.

Di sisi lain yang paling disyukuri Anas, dengan aktif di NU, dia banyak bertemu dan kumpul dengan para kiai.

Dalam dunia usaha, semenjak aktif “ngurip-nguripi NU”, dirasakan oleh Anas usahanya semakin berkembang. Setiap tahun usahanya meningkat. Status sosial-ekonomi yang dulu diakuinya kelas menengah-bawah, kini boleh disebut menengah-atas.

“Sepanjang kita ikhlas berjuang demi NU, pekerjaan itu loh kayak ditatano (ditata). Yang menata Gusti Allah. Asal kita ikhtiar, berdoa, mikir agomo, Gusti Allah yang mengatur rejeki kita. Kalau dapat rejeki kemudian dipakai berjuang di NU karena lillahi ta’ala,” ujarnya.  “Kita berjuang untuk NU pekerjaan pasti lancar. Usaha dan rejeki lancar,” ujarnya.

Meski demikian, dalam dunia usaha, Anas Dimyati selalu menjaga kualitas pekerjaan. Dia berusaha menjaga hubungan baik dengan klien dengan memperhatikan kualitas. “Kualitas dan kuantitas harus kita jaga. Jika kepercayaan sudah dijaga, ikhtiar dan doa pasti, pasrahkan ke Yang Kuasa,” ujarnya.

Seminggu setelah dilantik MWC NU Wonoayu mengadakan Musyawarah Kerja di Batu, Sabtu-Minggu (19-20/2). Sebanyak 110 orang pengurus MWC, ranting, lembaga, banom dan Camat Wonoayu ikut serta dalam musker. Hampir 50-an kamar untuk peserta musker di Hotel Ciptaning Ati, Batu, diborong dan dibayar sendiri oleh Anas Dimyati. Musker ini dihadiri Bupati Sideoarjo, H. Ahmad Muhdlor Ali.

Juga yang tidak kalah penting dalam berjuang mengamalkan Aswaja, lanjut Anas, harus mendapat dukungan istri. Istrinya, Hj. SriAjeng Sumiarsih, mendukung penuh. “Harus klik sama istri. Artinya, dukungan dari istri. Kita ikhlas dan istri juga harus ikhlas. Sehingga istri juga ikut merasakan,” ujarnya.

Mengapa demikian? “Karena syiar agama juga membutuhkan finansial. Ketika survei hotel untuk musker MWC Wonoayu, saya lakukan berdua dengan istri. Sewaktu hari kedua musker istri saya sempat menelepon saya apakah uangnya cukup? Kalau kita klik dengan istri kemudahan pasti ada,” katanya.

Anas Dimyati memang tidak ujuk-ujuk sukses sebagai kontraktor. Dia memulai benar-benar dari bawah. Merasakan getirnya kehidupan ketika menjalani kuliah di Teknik Kimia PTS di Surabaya. Agar bisa kuliah selama semester I numpang tidur di masjid di kampusnya. Kemudian semester III, IV dan V dia bekerja sambil kuliah. “Saya itu kepingin kuliah tapi kemampuan terbatas,” ujarnya sambil tersenyum.

Lulus kuliah Anas memutuskan kembali ke desa kelahirannya. Terpilih menjadi Ketua LKMD Desa Sumberame, Kecamatan Wringinanom, Gresik. Di sinilah Anas menerapkan ilmu organisasi yang dicecapnya di kampus, sekaligus belajar ilmu kemasyarakatan.

“Selama menjadi Ketua BPD saya harus punya sifat andhap asor, menghormati yang tua. Bagaimana tidak, anggota BPD ada mantan kepala sekolah saya, mantan kepala cabang BNI, mantan anggota DPRD dari Golkar. Saya yang lebih muda harus menghormati mereka,” kata Anas.

Saat lulus kuliah Anas memang dihadapkan pada dua pilihan, yaitu bekerja di bidang sesuai ilmu yang didapatnya di kampus atau menjadi wiraswasta. “Ada dua pilihan, sesuai bidang saya ataukah duit. Biasa, karakter manusia. Kalau sesuai bidang saya, pasti saya bekerja di perusahaan, kalau demi duit maka saya harus berwiraswasta. Maka pilihan saya berwiraswasta,” katanya.

Sejak itulah Anas belajar dan terjun menjadi kontraktor kecil-kecilan. Apalagi posisinya menjadi Ketua BPD, seringkali menuntutnya berhubungan dengan kontraktor atau investor di desanya. Pilihan menjadi kontraktor ternyata menjadi pilihan yang benar.

Kini Anas Dimyati tetap berjuang di jalur agama melalui NU. Terhadap suara-suara sumbang bahwa aktivitasnya di NU sekadar untuk batu loncatan diabaikannya. Anas juga tidak punya pamrih politik.

Itu sebabnya, ketika ditanya apakah tidak ingin mencalonkan menjadi anggota DPRD, dengan sigap Anas menjawab, “Saya tidak mempunyai ambisi politik. Saya berjuang di jalur NU karena lillahi ta’ala,” tegasnya.(leres)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *