25 Guru Sidoarjo Ikuti Training Pembuatan Konten dan Media Pembelajaran Berbasis Toleransi

MOJOKERTO – Ada tiga hal yang menjadi penyebab terjadinya intoleransi. Pertama, mereka merasa dirinya benar dan orang lain salah. Kedua, menjalankan agama hanya secara tekstual saja, bukan kontekstual. Hal ini bukan hanya di kelompok muslim saja melainkan juga di penganut agama lain, meskipun yang banyak terlihat dari kelompok muslim. Ketiga, kurang pas memahami sunnah. Mereka mengidentikkan budaya Arab dengan ajaran Islam.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Sidoarjo, Dr. Mustain, M.Pd.I, menyampaikan hal itu ketika membuka acara pelatihan untuk kalangan guru-guru di Sidoarjo yang diselenggarakan di Hotel Royal Trawas, Mojokerto, Rabu siang, 22 Juni 2022. Acara ini diselenggarakan oleh Komunitas Seni Budaya BrangWetan yang berlangsung hingga hari Kamis siang (23/6/22) dengan judul lengkap “Training Pembuatan Konten dan Media Pembelajaran Berbasis Toleransi Bagi Guru Mata Pelajaran dan Guru/Pembimbing Esktrakurikuer.”

Sebanyak 25 (dua puluh lima) peserta yang terdiri dari guru dari 5 (lima) sekolah yaitu SMAN 1 Gedangan, MAN Nurul Huda Sedati, dan 3 SMPN 1 dari Waru, Taman dan Gedangan. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian program BrangWetan selama satu tahun yaitu “Cinta Budaya Cinta Tanah Air Tahap Dua” yang berlangsung hingga pertengahan tahun depan.

Selanjutnya Mustain menyampaikan kegelisahannya melihat kondisi masyarakat selama ini, karena kalau ada orang kumpul-kumpul sudah cenderung melakukan unjuk rasa.  Ungkapan takbir sekarang ini digunakan untuk menyerang teman sendiri yang dianggap berlawanan. Sudah terjadi pergeseran nilai, sehingga menjurus ke arah intoleransi.

Padahal, kata Mustain,  apa yang terjadi di negara-negara Arab sudah sedikit yang stabil, mulai dari Afganistan, Irak, Syria, Libanon. Semuanya hancur. Karena mereka tidak mampu menerjemahkan agama dalam wawasan kebangsaan. Akibatnya perang terus. Tidak sempat membangun. Bahkan di antara mereka terusir dari negaranya sendiri. Contohnya Afganistan.

Karena itu menurut Mustain, peran ulama atau pemuka agama sangat penting bagaimana menempatkan agama secara kontekstual. Dicontohkan, sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, KH.Wahab Hasbullah menciptakan lagu Hubbul Waton Minal Iman, yang kemudian menjadi semacam lagu wajib bagi kalangan Nahdlatul Ulama. Pesan ini menunjukkan bahwa ulama NU sudah menegaskan bahwa negara ini harus kita amankan. Bahkan, Mustain pernah meminta warga HKBP (Huriah Kristen Batak Protestan) menggubah lagu Hubbul Waton Minal Iman dengan aransemen yang menarik dan dinyanyikan di Pura. Inilah contoh toleransi yang mengedepankan kebangsaan di atas perbedaan agama. Sebagaimana pesan K.H. Said Agil, bahwa agama tetap dinomorsatukan tetapi budaya diutamakan. Sehingga semua berjalan dengan baik, tidak akan saling menyalahkan dan saling menjatuhkan.

“Kesemuanya ini harus kita pikirkan agar bangsa ini tidak hancur sebagaimana negara-negara di Timur Tengah, atau seperti Uni Sovyet, sehingga ke depan Indonesia menjadi negara yang Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur (Negeri yang baik dengan Rabb (Tuhan) Yang Maha Pengampun),” pungkasnya

Sementara itu, Harmoni Senior Technical Advisor, Umelto (Alto) Labetubun, dalam kesempatan yang sama menyebutkan bahwa tujuan kegiatan ini adalah bagaimana sekolah menjadi magnit bagi toleransi. Karena itu perlu pembatasan penggunaan kata-kata yang menimbulkan konotasi negatif atau rejection, misalnya radikalisme, intoleransi, dan lain-lain. Pengalaman Harmoni bekerjasama dengan 93 sekolah di Sragen, menggunakan tema “membangun rasa percaya diri” karena kalau mereka sudah memiliki rasa percaya diri yang tinggi maka tidak gampang diajak nakal oleh kelompok manapun.

Menurut Alto, ada teori yang menyebutkan mengapa seorang itu menjadi pelaku teror, yaitu 3 (tiga) N,: Needs (kebutuhan), Narasi (teks), dan Networking (jaringan). Mereka yang menjadi teroris karena kebutuhannya (needs) tidak tercapai. Dia merasa teralienasi di masyarakat. Merasa dirinya tidak signifikan, dianggap tidak ada di masyarakat. Hal ini tidak berhubungan dengan satu faktor, misalnya ekonomi. Karena terbukti para pelaku teror selama ini sebagian justru berasal dari kalangan mampu dan inteletual. Kebutuhan ini juga menyangkut respon dari masyarakat yang berkurang atau hilang terhadap apa yang disuarakan melalui media sosial.

Untuk mencukupi kebutuhan itu mereka membutuhkan teks atau narasi untuk menguatkan pembiasaan di masyarakat. Mereka yang melakukan teror selalu berada dalam jaringan (network), baik jaringan nyata di antara teman-temannya maupun jaringan di dunia maya atau media sosial.

Karena itu dalam training ini diajarkan seperti apa pesan-pesan yang akan dibuat agar orang yang membacanya sudah merasa signifikan, sehingga kebutuhan untuk mencari narasi yang membenarkan untuk melakukan tindakan-tindakan intoleran menjadi minimum. Seperti halnya anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian di rumahnya akan cenderung menjadi anak nakal di sekolah untuk menjadi signifikan di antara teman-temannya. Tidak ada gunanya “perang ayat” tetapi yang penting adalah “perang pemasaran”, apakah yang kita ajarkan mampu diikuti oleh siswa ataukah mereka justru lebih tertarik dengan yang diajarkan mereka.

Sementara Ketua Komunitas Seni Budaya BrangWetan, Henri Nurcahyo, memaparkan bahwa persoalan toleransi bukan hal yang baru. Toleransi adalah suatu hal yang sudah kita ketahui sejak lama dalam keseharian namun kadang-kadang tidak disadari. Maka pelatihan soal toleransi bukanlah mengajarkan sesuatu yang sama sekali baru melainkan bagaimana memahami apa yang sudah kita ketahui untuk disadari, dan yang paling penting adalah eksekusi.

Dalam training ini yang menjadi narasumber adalah Dr. Herni Ferisia dari UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr Hj. Sutiah, M.Pd (UIN MALIKI Malang), dan Dewantoro dari Harmoni Jakarta. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *